Pencari Kerja Business Working Capital Turnover dan Inventory Ratio

Working Capital Turnover dan Inventory Ratio

Working Capital Turnover dan Inventory Ratio
Sumber Illustrasi: pixabay.com

Working Capital Turnover dan Inventory Ratio – Keuangan merupakan hal yang paling penting dalam jalannya roda perusahaan. Hal yang paling ditakutkan perusahaan adalah saat terjadinya krisis keuangan.

Laporan keuangan perusahaan tidak bisa mengintrepretasikan secara penuh bagaimana kesuksesan suatu perusahaan. Perlu dilakukan analisis rasio keuangan untuk memperhatikan kesehatan keuangan suatu perusahaan.

Working Capital Turnover dan Inventory Ratio

Anda mungkin bertanya-tanya rasio apa sajakah yang paling penting untuk diperhatikan?. Ada enam rasio yang sangat penting diperhatikan. Dua dari ke enam rasio tersebut akan Adin bahas untuk Anda pada bagian pertama ini.

1. Gambaran Umum

Bagaimana jika kas perusahaan yang mengendap terlalu besar?. Hal tersebut tidak akan menguntungkan perusahaan, dikarenakan kas yang mengendap bisa dialihkan untuk investasi yang dapat memberikan imbal hasil yang tinggi.

Misal perusahaan memiliki uang mengendap di kas dan setara kas senilai Rp. 10 triliun. Jika uang tersebut disimpan di bank dalam bentuk simpanan, imbal hasil yang diperoleh paling hanya sekitar 2-4%.

Bayangkan ketika dana tersebut kita investasikan dalam bentuk saham atau surat obligasi? Imbal hasilnya akan lebih tinggi. Sehingga krisis pun akan bisa diminimalisir.

2. Rasio Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turnover)

Modal Kerja merupakan selisih antara aset lancar dan utang lancar. Kenapa modal kerja ini penting? Perputaran modal kerja sangat penting untuk melihat berapa modal kerja yang diguanakan perusahaan untuk menciptakan penjualannya,

Sehingga nantinya dapat menambah pundi-pundi finansial perusahaan. Dengan memperhatikan modal kerja akan memungkinkan perusahaan dapat menggunakan sumber dayanya dengan ekonomis sehingga bahaya akan krisis keuangan akan dapat diminimalisir.

Rasio Perputaran Modal Kerja

Berikut rumus untuk menghitung rasio perputaran modal kerja. Jika nilai penjualan naik, maka rasio tersebut akan tinggi, begitu pula jika modal kerja turun.

Sebaliknya, jika penjualan turun maka rasio tersebut juga akan rendah. Apalagi jika modal kerja naik. Cara menghitung kebutuhan modal kerja, bisa Anda perhatikan contoh berikut:

Contoh Rasio Modal Kerja:

Jumlah penjualan netto suatu perusahaan adalah Rp. 8 Miliar, aset lancar yang dimiliki Rp. 2,4 Miliar, sedangkan utang lancar yang dimiliki hanya sekitar Rp. 1 Miliar. Maka perputaran modal kerja adalah:

Rasio Perputaran Modal kerja (Working Capital Turnover Ratio)

= Penjualan: (Aset Lancar-Utang Lancar)

= Rp. 8 miliar : (Rp. 2,4 miliar – Rp. 1 miliar)

= 5,17 kali.

Hal tersebut menandakan bahwa dana yang tertanam dalam modal kerja berputar rata-rata 5,17 kali dalam satu tahun.

Rasio-rasio Persediaan (Inventory Ratio)

Sangat penting bagi perusahaan untuk menjaga kesinambungan persediaannya dalam rangka memenuhi permintaan pasar.

Jangan sampai, ketika ada peningkatan permintaan, perusahaan tidak bisa memenuhi permintaan tersebut di karenakan persediaan telah habis.

Lain daripada itu, perusahaan juga tidak boleh memiliki persediaan yang mengendap terlalu banyak di gudang. Mengapa?

Hal tersebut tentunya di karenakan nantinya uang yang mengendap di persediaan akan terlalu terbuang percuma.

Karena uang tersebut bisa Anda gunakan untuk kegiatan lain yang lebih produktif. INGAT bahwa ketika persediaannya terlalu banyak, maka biaya pemeliharaan persediaan itu juga akan tinggi.

Dengan kata lain, perusahaan harus mengestimasikan persediaan jangan sampai kurang dan jangan sampai berlebihan terlalu banyak. Inilah pentingnya manajemen persediaan bagi perusahaan.

Contoh Inventory Ratio:

PT XYZ pada tahun 2016 memiliki nilai harga pokok penjualan Rp. 100 juta, sedangkan persediaan awal Rp. 45 juta dan Persediaan akhirnya 15 juta.

Maka rasio perputaran persediaan tersebut adalah Rp. 100 juta : (60 juta : 2) = 3,333 kali. Jika pada tahun 2015 rasio perputaran persediaan adalah 4 kali, maka ini menandakan bahwa tingkat perputaran persediaan PT XYZ menurun.

Penurunan tingkat perputaran persediaan menandakan bahwa PT XYZ mengalami masalah dalam penjualan. Untuk itu perlu sekali bagi perusahaan untuk melakukan identifikasi faktor-faktor penyebabnya.

Apakah ada barang yang di catat untuk gudang sehingga sudah bisa Anda jual? Adakah pelanggan yang tidak puas dengan kualitas barang perusahaan kita?. Cari detail penyebabnya.

Di samping itu kita juga perlu mencari umur rata-rata persediaan, dengan menggunakan rumus umum Inventory Ratio sebagai berikut:

Umur Rata-rata Persediaan = 365 / Rasio Perputaran Persediaan

Berdasarkan contoh di atas, maka umur rata-rata persediaan PT XYZ tahun 2016 adalah 365:3,333 = 109,5 hari. Jika rata-rata usia persediaan pada tahun 2015 adalah 365:4= 91,25 hari, hal tersebut menunjukkan adanya masalah yang serius dalam persediaan barang.

Mungkin cukup sekian postingan kali ini mengenai Working Capital Turnover dan Inventory Ratio, yang bisa mimin bagikan. Terimakasih

5 Likes

Author: Admin

Saya Seorang Freelance dari Tahun 2013. Suka Menjelajahi Internet. Jika Bermanfaat Bagi Anda Silahkan Share Ke Jaringan Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *