Pencari Kerja Belajar Saham Pemula Memahami Dasar Penggunaan Support dan Resistance

Memahami Dasar Penggunaan Support dan Resistance

Memahami Dasar Penggunaan Support dan Resistance – Apa itu support & resistance ? Dan bagaimana penerapannya dalam penentuan harga saham.

Pada dasarnya support merupakan level dimana harga merasa sulit untuk jatuh kebawah hingga akhirnya gagal untuk memamtul kembali.

Sedangkan resistance adalah level dimana harga sulit untuk ditembus untuk naik di atasnya hingga gagal dan didorong kembali ke bawah.

Pada dasarnya kedua konsep tersebut sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai contoh jika suatu barang yang sehari-harinya dijual sebesar Rp. 7.000, namun suatu hari harga barang tersebut turun Rp. 5.000.

Di ke-esokan harinya harga kembali naik menjadi Rp. 7.000 dan turun kembali Rp. 5000 maka pada saat itulah merupakan harga terbaik yang bisa di dapatkan dengan menjadikan harga tersebut sebagai titik support yang menjaga harga untuk tidak turun kembali.

Sedangkan Resistance merupakan harga suatu barang dapat naik pada tingkat harga tertentu, namun harga tersebut gagal untuk naik di angka Rp. 5.000.

Ini dikarenakan kekuatan pasar tidak yang tidak cukup sehingga harga suatu barang tidak akan naik. Dan berfikir bahwa harga tersebut merupakan harga terbaik.

Oleh karena itu titik resistance lah yang menjaga harga untuk naik karena banyak yang ingin menjual di harga tersebut.

Memahami Dasar Penggunaan Support dan Resistance

Mari kita belajar lebih jauh lagi memahami dasar penggunaan support dan resistance yang bis Anda pelajari secara mandiri di bawah ini:

1. Trendlines

Support & Resistance dapat menggambarkan area “psikologi” pada market yang bersangkutan. Anggap support dan resistance sebagai pagar, semakin sulit di tembus menanndakan semakin kuat level psikologinya.

Lalu bagaimana cara untuk menentukan titik Support dan Resistance

Ada 3 kemungkinan yang terjadi dimana market akan mengenai level support dan resistance :

  1. Berbalik arah (reversal)
  2. Berhenti bergerak dan diam sampai market memutuskan hendak ke mana arah yang dituju.
  3. Breakout dari support/resistance tersebut untuk kemudian melanjutkan arah trendnya baik itu yang sebelumnya atau trend yang baru.

Memahami Dasar Penggunaan Support dan Resistance

2. Uptrend

Bila kita lihat market bergerak ke atas (uptrend) sangat kuat sekali, yang perlu diperhatikan minimal ada 2 buah low yang sama sebagai dasar untuk menarik trendline tersebut.

Memahami Dasar Penggunaan Support dan Resistance

 

3. Down Trendline

Apabila melihat market bergerak ke bawah (downtrend) sangat kuat sekali, yang perlu diperhatikan minimal ada 2 buah high yang sama sebagai dasar untuk menarik trendline tersebut.

Cara Membuat Uptrend

Adapun cara membuat uptrend yaitu dengan dibuat dengan menghubungkan dua buah titik support line (batas bawah). Sedangkan untuk downtrend dibuat dengan menghubungkan dua buah titik resistance line (batas atas).

Bila harga menembus trendline mengindikasikan harga akan bekelanjutan. Uptrend dan Downtrend juga termasuk didalam lead indikator.

Channel Lines

Dibuat dengan menarik garis sejajar dengan sudut yang sama dengan uptrend downtrend. Ketika harga menyentuh garis atas dapat digunakan sebagai sinyal entry posisi sell dan ketika menyentuh garis bawah dapat digunakan sebagai sinyal untuk posisi buy.

Pivot Point

Merupakan cara lain yang sering digunakan untuk menentukan level support & resistance dalam range 1 hari perdagangan.

Kelabihan dari metode ini yaitu setiap trader di seluruh dunia menggunakan rumus yang sama untuk menghitung pivot sehingga pivot merupakan level psikologi pasar yang paling sering digunakan oleh para trader untuk membuat keputusan.

Cara Menghitung Support & Resistance Menggunakan Pivot Point :

Resistance 3 = High + 2* (Pivot – Low)
Resistance 2 = Pivot + (R1 – S1)
Resistance 1 = 2 * Pivot – Low
Pivot Point = ( High + Close + Low)/3
Support 1 = 2 * Pivot – High
Support 2 = Pivot – (R1-S1)
Support 3 = Low – 2* (High – Pivot)

Camarilla Equaition

Merupakan indikator berbasi harga yang menyediakan serangkaian level support dan resistance, seperti indikator Pivot Lantai.

Namun, yang membuat indikator ini unik adalah kenyataan bahwa setiap pivot membawa ajakan bertindak tertentu. Camarilla Equation terdiri dari 8 level yaitu L4, L3, L2, L1, H1, H2, H3, H4 (bahkan ada yang ekstrem dengan L5 & H5).

Cara Perhitungan Camarilla Equation :

Dimana C = closing price.
H4 = [1.1*(H-L)/2]+C
H3 = [1.1*(H-L)/4]+C
H2 = [1.1*(H-L)/6]+C
H2 = [1.1*(H-L)/12]+C
L1 = C-[1.1*(H-L)/12]
L2 = C-[1.1*(H-L)/6]
L3 = C-[1.1*(H-L)/4]
L4 = C-[1.1*(H-L)/2]

Rumus L5 & H5 (jarang diungkapkan)

H5 = (H/l)+C
L5 = C-(H5-C)
H = High dari harga kemarin
L = Low dari harga kemarin

Rules dari Camarilla Equation

Level-level digunakan di camarilla equation pada praktiknya hanya L4 & H4 untuk breakout trading (sangat dianjurkan untuk pemula), dan L3 & H3 untuk reversal/bouncing trade. Sedangkan level L1, L2, H1, H2 hanya digunakan sebagai petunjuk level-level support & resistance saja.

Mungkin cukup sekian postingan kali ini tentang Memahami Dasar Penggunaan Support dan Resistance yang bisa mimin bagikan, semoga bermanfaat.

Sumber: www.nodjourney.com

3 Likes

Author: Admin

Saya Seorang Freelance dari Tahun 2013. Suka Menjelajahi Internet. Jika Bermanfaat Bagi Anda Silahkan Share Ke Jaringan Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *